“Kenapa rumah subsidi jauh dari kota?”
Jawabannya gini, kak. Rumah itu sangat dipengaruhi oleh lokasi dan tentunya harga tanah.
Biasanya, yang mencari perumahan adalah mereka yang bekerja di kota, tapi tentu nggak mau ngontrak terus-terusan. Pilihannya ya membeli rumah sendiri. Dan sebagai pekerja (umumnya), harga tentu jadi prioritas utama.
Gambaran sederhananya seperti ini: “Aku kerja di kota, tapi aku nggak mau ngekos atau ngontrak selamanya. Aku pengen punya rumah sendiri sebagai jaminan tempat tinggal, apalagi buat yang merantau.”
Dari kebutuhan itulah kemudian muncul rumah subsidi. Artinya, rumah yang didukung oleh program pemerintah untuk membantu memenuhi kebutuhan tempat tinggal tersebut.
Terus, kenapa lokasinya jauh dari kota? Jawabannya kembali lagi ke biaya tanah.
Secara teknis, iya—memang lokasinya lebih jauh dari pusat kota. Tapi kalau kita pintar memilih, sekarang sudah banyak developer perumahan subsidi dengan pilihan lokasi yang cukup strategis, khususnya di wilayah Soloraya. Tinggal cari area pinggir kota yang jaraknya masih masuk akal dengan tempat kerja.
Rumah Subsidi Sangat Dipengaruhi oleh Harga Tanah
Harga rumah tidak hanya ditentukan oleh bangunan, tapi sangat dipengaruhi oleh lokasi dan harga tanah.
Semakin dekat ke pusat kota:
harga tanah semakin tinggi
biaya pengadaan lahan meningkat
harga rumah otomatis ikut naik
Sementara itu, rumah subsidi merupakan program yang ditujukan untuk membantu masyarakat—khususnya pekerja—agar bisa memiliki rumah sendiri dengan harga dan cicilan terjangkau.
Agar harga rumah tetap masuk dalam skema subsidi pemerintah, maka pengembang harus mencari lokasi dengan harga tanah yang masih memungkinkan. Inilah alasan utama kenapa perumahan subsidi umumnya dibangun di luar pusat kota.
🔢 Gambaran Kasar: Kenapa Rumah Subsidi Jauh dari Kota (Secara Angka)
Secara sederhana, harga tanah sangat menentukan lokasi rumah subsidi.
Sebagai gambaran, harga tanah di area dekat kota bisa mencapai jutaan rupiah per meter, sementara di pinggir kota harganya bisa beberapa ratus ribu saja.
Dengan luas tanah rumah subsidi sekitar 60 meter persegi, selisih harga tanah ini sudah sangat besar bahkan sebelum rumah dibangun.
1️⃣ Harga Tanah (Contoh Kasar Soloraya)
⚠️ ini ilustrasi logis, bukan patokan baku
Harga tanah dekat kota (Palur, Jebres, Kartasura inti):
± 1,5 – 3 juta / m²
Harga tanah pinggir kota (±10–15 menit):
± 300 – 700 ribu / m²
2️⃣ Hitung Sederhana Luas Tanah Rumah Subsidi
Rata-rata rumah subsidi:
Luas tanah: 60 m²
🟥 Kalau dibangun dekat kota
60 m² × 1,5 juta = 90 juta (tanah saja)
belum bangunan
belum infrastruktur
belum margin pengembang
➡️ langsung mentok, nggak mungkin masuk skema subsidi.
🟩 Kalau dibangun di pinggir kota
60 m² × 400 ribu = 24 juta
masih ada ruang untuk:
bangunan
jalan
drainase
margin wajar
➡️ baru bisa masuk harga rumah subsidi ±166 juta
👉 di sini kuncinya, bukan “pengembang pelit”, tapi struktur biaya memang begitu.
3️⃣ Kenapa Nggak Dipaksa Aja Lebih Dekat Kota?
Karena rumah subsidi:
❌ harga jual dibatasi pemerintah
❌ spesifikasi ditentukan
❌ margin pengembang tipis
Berbeda dengan rumah komersial:
harga bebas
lokasi bisa mahal
margin bisa ditarik lebih tinggi
➡️ Jadi variabel yang bisa “digeser” cuma lokasi tanah.
Kebutuhan Nyata Pencari Rumah Subsidi
Sebagian besar pencari rumah subsidi memiliki kebutuhan yang hampir sama:
bekerja di kota
tidak ingin terus-menerus ngontrak atau ngekos
ingin memiliki rumah sendiri sebagai tempat tinggal tetap
Rumah subsidi hadir sebagai solusi dari kebutuhan tersebut. Artinya, fokus utamanya adalah kepemilikan rumah dengan biaya terjangkau, bukan lokasi premium di pusat kota.
Jika rumah subsidi dipaksakan berada di tengah kota, maka:
harga rumah akan jauh lebih mahal
cicilan tidak lagi sesuai kemampuan mayoritas pekerja
tujuan awal program subsidi tidak tercapai
Jauh dari Kota, Tapi Masih Masuk Akal
Secara teknis, memang benar lokasi rumah subsidi berada di pinggiran kota. Namun bukan berarti lokasinya selalu terpencil atau tidak strategis.
Saat ini sudah banyak perumahan subsidi yang:
berada di kawasan pengembangan baru
memiliki akses jalan yang terus berkembang
jaraknya masih masuk akal ke pusat kota atau kawasan kerja
Kuncinya ada pada pemilihan lokasi. Dengan memilih area pinggiran kota yang tepat, calon pembeli tetap bisa mendapatkan rumah terjangkau tanpa harus terlalu jauh dari aktivitas sehari-hari.
Gambaran Harga Rumah Subsidi Saat Ini
Sebagai gambaran umum:
harga rumah subsidi berada di kisaran Rp160–170 jutaan
cicilan KPR relatif ringan, sekitar 1 jutaan per bulan, tergantung skema dan bank
Dengan harga tersebut, sangat sulit jika rumah berada di pusat kota. Namun di kawasan pinggiran kota yang berkembang, skema ini masih sangat memungkinkan.
Kesimpulan
Rumah subsidi bukan soal rumah murah semata, tapi soal keseimbangan antara harga, lokasi, dan kemampuan beli.
Daripada terus mengeluarkan biaya untuk kontrak atau kos, banyak orang memilih rumah subsidi sebagai langkah awal memiliki hunian sendiri. Meski lokasinya tidak di tengah kota, dengan pemilihan area yang tepat, rumah subsidi tetap bisa menjadi solusi tempat tinggal yang layak dan realistis.
Ingin Melihat Pilihan Lokasi Rumah Subsidi?
Jika kamu ingin:
melihat pilihan perumahan subsidi
membandingkan lokasi di sekitar Soloraya
atau sekadar mencari referensi sebelum memutuskan
👉 Katalog perumahan bisa kamu lihat di bawah ini.
Kalau kamu tertarik untuk lihat-lihat atau memilih beberapa opsi lokasi, kami sudah siapkan link katalog di bawah ini ya.
KATALOG RUMAH SUBSIDI SOLORAYA
Oh iya, kamu juga boleh kok menghubungi marketing atau admin kami hanya untuk tanya-tanya dulu. Siapa tahu cocok, kalau pun belum—setidaknya bisa nambah informasi dan referensi. Klik tombol WA 😊📱
